Posts

Showing posts with the label Catatan

sudah lama

Image
sudah lama saya tidak buka halaman ini. gambar  yang sudah lama juga dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan catatan kali ini.

Korazora

Image
Feel the Breeze between the Iceberg

aku ingin (2)

bahagia lulus sma dengan ijazah yang baik masuk ptn yang diinginkan tidur makan bahagia kamu tidak harus ke sekolah di hari senin tidak harus ulangan fisika pada hari rabu ini tidur aku berhasil lulus sma dengan ijazah yang baik, masuk ptn yang diinginkan, tidak harus ke sekolah di hari senin, dan tidak harus ulangan fisika pada hari rabu ini. aku sudah makan dan tidur yang cukup. dan aku bahagia. tapi aku masih menginginkanmu. tidak usah jadi milikku, cukup ada di sisiku saja. aku tidak lagi ingin tenggelam dan melupakanmu untuk selamanya. biar aku mengingatmu sebagai kenangan yang baik, menyimpanmu dekat di jantung hati. untuk selamanya. selamanya.

280416

Image
“And now here is my secret, a very simple secret: It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye.” ― Antoine de Saint-Exupéry, The Little Prince i have no secret. just truth that hasn't been said, that's all.

aku ingin

bahagia lulus sma dengan ijazah yang baik masuk ptn yang diinginkan tidur makan bahagia kamu tidak harus ke sekolah di hari senin tidak harus ulangan fisika pada hari rabu ini tidur tapi daripada semua itu, sebenarnya, aku ingin tenggelam dan melupakanmu untuk selamanya. selamanya.

Catatan #8

kupikir aku bisa jadi tidak peduli

Cerita 6 Kata

Langit malam: kelap-kelip indah bintang artifisial.

Jelek

Cewek di depanku menangis, memegang erat liontin yang basah dan kotor itu (meski aku sebenarnya tidak pantas bilang begitu, karena aku yang tadi mengambilnya dari selokan juga basah dan kotor). Dia berkali-kali mengucapkan terima ditengah isakannya. Menyebalkan. "Kalau kamu bener-bener pingin berterima kasih, berhentilah menangis dan tersenyum. Dasar jelek." Cewek itu menatapku. Matanya bengkak dan hidungnya merah. Badannya sudah berhenti bergetar, tapi air matanya masih mengalir. ... Ingusnya juga. Ugh. "Jelek," sekali lagi kuucapkan. Mungkin dia harus ganti nama dari Bella jadi Jelek. Lebih cocok. Lalu tiba-tiba saja Si Jelek tertawa kecil. Dengan cara yang benar-benar kecewek-cewekan sekali. Menjijikan. "Terima kasih." Si Jelek tersenyum, tapi aku tidak. Kualihkan pandanganku darinya. Ingin kututup mulut dan hidungku seakan mau muntah dengan tapi tanganku kotor. Huek. Aku tidak tahu kalau senyumannya bisa membuat perut orang terasa begitu pen...

Catatan #7

Aku akan membuatnya gampang dimengerti. Baik kamu maupun aku, kita akan dapat mengerti dengan mudahnya. Jadi, luangkan waktumu sejenak barang semenit dua menit untuk membaca surat ini. Tidak akan lama. "Aku menyayangimu." Jika kukatakan dua hal itu padamu, semuanya akan berubah kan, ya. Bayangan kita yang saling menumpuk satu sama lain di jalan pulang waktu itu, apa kau akan melihat hal sekecil itu dengan cara yang berbeda? Aku jadi ingin melihat wajahmu sekarang. Saat menulis surat ini, aku serasa sedang bersamamu. Sosokmu yang terlelap di kursi sebelahku karena terlalu lelah, aku bisa melihatnya. Aku sendiri tidak percaya, tapi membayangkan dirimu ada di sampingku saja sudah membuat hatiku berdegup kencang. Jadi mungkin aku tidak benar-benar ingin melihat wajahmu sekarang. Tapi mengingat aku mungkin tidak akan bisa menemuimu lagi.... Rasanya sulit jika harus menerima hal itu. "Terus semangat, ya." Ketika kukatakan begitu, kau hanya tersenyum. Seperti biasa. ...

Suatu Sore

"Jadi, kamu gak suka sama aku?" Tanyaku suatu sore dengan nada bercanda. Hening. Hari itu kami menunggu hujan reda di koridor. Dia yang asik dengan dunianya sendiri dan aku yang terus berusaha mencuri perhatiannya. Entah bagaimana caranya, percakapan kami membuatku tak tahan untuk melontarkan pertanyaan itu. Aku sadar diriku memang tipe yang berkata dulu baru berpikir- tipikal orang bodoh yang akan selalu menyesal segala yang telah dikatakannya. Baru saja aku mau membatalkan pertanyaanku, dia menjawab, "Ya... semacam." Deg! Meski aku sudah memprediksi kalau dia tidak akan menjawab dengan jawaban yang bisa membuatku puas, rasa sesal telah bertanya begitu tetap ada. Aku tahu, hubungan kami bukan seperti itu. Hanya sekedar teman, benar-benar platonik saja. Tapi, apakah rasa sukanya padaku sebagai teman sedikitpun tidak ada? Malu rasanya. Kupikir kami sudah cukup dekat untuk bisa menceritakan mengapa ia putus dengan mantannya dan bagaimana aku pernah ditolak oleh o...

Catatan #6

"Ini." Tahu-tahu, di depanku sudah ada jaket parasut yang terlipat rapi. "Aku gak bawa payung, tapi setidaknya jaket ini bisa membuatmu sedikit lebih hangat." Mataku berkedip. "Kamu pasti gak bawa jaket, kan? Soalnya tadi siang panas sekali." Aku termangu. "Kubelikan teh manis panas dulu, ya. Gulanya tiga sendok, kan?" Dia ingat? Ekspresi terkejutku pasti kentara sekali karena dirinya memberiku cengiran khasnya. Aku merengut. "Benar. Jangan lupa bala-bala." "Oke." Dan setelah itu, dia pergi. Kupakai jaketnya dan menyadari satu hal yang tak pernah kusangka. Padahal dia terlihat sama besarnya denganku, tapi ukuran jaket ini jauh lebih besar daripada ukuranku. Panjang lengannya sampai menutupi jari-jariku yang keriput karena dingin. Begitu dia kembali dengan dua mug besar, dia menatapku lekat-lekat. Kupikir, dia akan mengomentari penampilanku yang seperti orang-orangan sawah karena jaketnya yang kebesaran. Tapi, sambi...

Untuk Sayangku

Dear Sayang, (meski mungkin ini bukan saatnya aku memanggilmu begitu, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku menyayangimu.) Kamu tak perlu mengerti untuk mencintaiku. Biar aku saja. Biar kamu hanya duduk-duduk manis, menunggu diriku membawa dunia untuk tuan putri satu-satunya. Kamu. Ya, kamu tidak perlu mengerti untuk mencintaiku. Karena dicoba dimengerti sekeras apapun, kamu mungkin tidak akan pernah mengerti. Karena aku sendiri tidak. (Percayalah, aku bersama dengan diriku seumur hidupku. Dan sebagian besar hal yang pernah dilakukannya adalah hal-hal konyol. Sampai sekarang, aku tidak mengerti mengapa waktu itu aku nekat menghadap Si Botak Menyebalkan itu.) Tapi tidak apa. Biar rasa yang akan ada perlahan membuatmu paham. Tentang senyum gantengku yang turut membuatmu tersenyum. Tentang kacamata ungu fabulous -ku yang kemarin baru saja hilang. Tentang perkataanku yang seringkali kukutip dari novel sastra. Segalanya. Maka, Sayang, kamu tidak perlu mengerti. Kamu cukup mencin...

Catatan #5

Aku tak mengerti. Senyum canggungmu yang turut buatku tersenyum, Tawa lepasmu yang renyah namun terdengar seperti seseorang yang sedang kambuh asmanya, Lelucon-lelucon tidak lucumu yang sering menimbulkan suara jangkrik. Aku tak mengerti. Mukamu yang selalu dihiasi bingkai ungu, Cara berpakaianmu yang tak buruk meski sedikit asal, Rambut jabrikmu yang sesering apapun disisir takkan pernah benar-benar rapi. Aku tak mengerti. Kata-kata klisemu yang tak pernah gagal membuatku gaguk, Suara rendahmu yang kalau bernyanyi tak terdengar seperti Afgan, Kepolosanmu yang harus buatku berhati-hati. Aku tak mengerti. Kamu, yang tatapannya memaksaku tuk tak merayu, Yang wawasannya saban hari membabanku, Yang katanya percaya akan takdir sejati. Aku tak mengerti.

Catatan #4

"Sini, kuantar pulang," sahutnya sambil menggamit tanganku. Aku menggeleng. "Tidak usah, biar aku pulang naik angkot saja." Kucoba lepaskan tanganku dari tangannya, tapi kalah kuat dengan tenaganya. "Dan jangan asal sentuh," tambahku, sedikit kesal. "Maaf." Dirinya melepaskan tanganku dari tangannya. Bagus, karena tadi itu cukup sakit. Di tanganku, juga di dadaku. Kupikir, aku tak akan sanggup jika jantungku berdegup lebih kencang lagi. "Ayo, kuantar pulang," sahutnya lagi. Dan lagi, aku menggeleng. "Biasanya juga naik angkot." "Kalau begitu, mulai sekarang kamu harus terbiasa naik motorku." Nadanya memaksa. Alis mataku berkerut. Sebal. Dia pikir siapa dirinya, mengatur diriku seperti itu? "Tidak mau, nanti aku malah merepotkanmu." Hanya itu yang terpikirkan olehku sebagai alasan yang rasional. Tapi tentu saja, dia punya lebih banyak akal untuk membalikkan alasanku. "Tidak repot, kok," beg...

Catatan #3

Kamu tahu apa? Banyak sekali yang ingin kukatakan padamu, banyak cerita yang ingin kubagi bersamamu. Seperti bagaimana aku sangat terkesan ketika kau berhasil melakukan yang tak kubisa, atau bagaimana terkadang aku kesal jika kau mengingkari janjimu, atau bagaimana aku sangat berterima kasih saat kau siap menopangku setiap kali aku akan jatuh. Tapi karena gengsi, semuanya hanya kutelan kembali saat sudah di penghujung lidah. Sebuah tindakan pengecut yang selalu kulakukan. Namun kali ini, aku sudah membulatkan tekadku. Akan kuucapkan semua itu padamu. Aku janji.

Catatan #2

"Kamu ganteng." Mendengar kalimat itu, dia tertawa. "Makasih. Tapi aku yakin, pasti ada 'tapi'nya, kan?" Kuanggukan kepalaku. "Kamu benar." Kupandang mata sipitnya. Dia benar-benar terlihat berbeda ketika bingkai ungunya tak bertengger di hidungnya. Aku tahu, sosoknya masih dia yang kukenal. Tapi aku tak bisa menyangkal kalau dia memang sedikit terasa asing. "Kamu ganteng," ulangku, "tapi ya, sudah. Itu saja." Kulihat sebuah senyum tersungging di wajahnya. Cepat-cepat kutambahkan, "Aku bukannya suka kamu atau apa." "Koreksi, 'belum'." Aku jadi tersenyum simpul karenanya. "Kamu benar, mungkin belum."

Catatan #1

Kamu ke mana? Sudah lama tidak kulihat batang hidungmu. Bulak-balik kumencarimu. Tak pernah kulihat kacamata bingkai ungu itu. Kutanyakan pada semua, dan tak satupun jawaban memuaskanku. Kamu ke mana? Aku rindu.

Rindam III Siliwangi

Bila makan siang telah tiba Segera menuju ruang makan Bangkitkan semangatmu pelajar Siapkan perut untuk diisi Tanggal 20-22 Agustus kemarin, aku ikut LKS (Latihan Kepemimpinan Siswa) yang diadakan sekolah , loh!

Faza

Hari ini mungkin hari yang berbeda. Tapi tanggal dan bulannya tetap sama, kan? Dan tahun pun terus berjalan. Bertambah tua, dan semakin dewasa. Setiap tanggal 9 Februari, tahun akan berulang. Ya, hanya untukmu. Bagimu, tahun baru bukanlah ‘1 Januari’, melainkan ‘9 Februari’. Karena pada tanggal itulah, kau baru bisa merasakan cahaya dunia. Merasakan pahit manisnya kehidupan. Jangan melihat ke belakang, jangan. Jangan percaya bahwa dirimu itu suram, jangan. Karena kau adalah kamu, dirimu penuh cahaya. Karena kamu adalah kau, masa lalumu adalah apa yang membuatmu menjadi seperti ini. Mungkin kau memliih memori baru, tapi aku memilih memori lama. Karena memori baru pun akhirnya akan menjadi memori lama. Dan hadiah ini akan menjadi memori yang kau kenang ‘tuk slama-lamanya. Tidak, aku tidak ingin diriku dan hal ini dilupakan. Dan munkin kau lebih memilih untuk tidak menangis. Tapi karena aku hanya manusia biasa yang mungkin tidak normal, aku me...

running away

from the start, i'm just running away. . dari dulu, aku memang hanya bisa berlari. berlari, dan terus berlari. meninggalkan tanggung jawab dan kewajibanku. aku dari dulu memang paling ahli berlari. hingga pada akhirnya, aku menabrak dinding tinggi. dinding itu mengurungku. mengurungku dari dunia luar. dan setiap harinya, dinding itu semakin tinggi. tinggi, dan tinggi. dikelilingi oleh dinding itu selama hidupku, aku mulai lupa apa yang ada di balik dinding tersebut. satu hal yang pasti adalah, di balik dinding itu, aku akan tetap menjumpai langit yang sama. kalau aku bisa terbang, aku akan tahu apa yang ada di balik dinding itu. kalau aku bisa loncat tinggi, aku takkan penasaran lagi. kalau aku punya kekuatan, aku akan menghancurkan dinding itu, sehingga aku bisa melewatinya. tapi aku tidak bisa. karena aku manusia biasa. mungkin tidak normal, tapi setidaknya biasa. dikelilingi oleh dinding yang tak terlihat oleh orang lain, aku tak bisa menyuarakan...