Dear Sayang, (meski mungkin ini bukan saatnya aku memanggilmu begitu, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku menyayangimu.) Kamu tak perlu mengerti untuk mencintaiku. Biar aku saja. Biar kamu hanya duduk-duduk manis, menunggu diriku membawa dunia untuk tuan putri satu-satunya. Kamu. Ya, kamu tidak perlu mengerti untuk mencintaiku. Karena dicoba dimengerti sekeras apapun, kamu mungkin tidak akan pernah mengerti. Karena aku sendiri tidak. (Percayalah, aku bersama dengan diriku seumur hidupku. Dan sebagian besar hal yang pernah dilakukannya adalah hal-hal konyol. Sampai sekarang, aku tidak mengerti mengapa waktu itu aku nekat menghadap Si Botak Menyebalkan itu.) Tapi tidak apa. Biar rasa yang akan ada perlahan membuatmu paham. Tentang senyum gantengku yang turut membuatmu tersenyum. Tentang kacamata ungu fabulous -ku yang kemarin baru saja hilang. Tentang perkataanku yang seringkali kukutip dari novel sastra. Segalanya. Maka, Sayang, kamu tidak perlu mengerti. Kamu cukup mencin...
Bukan masalah pantas atau tak pantas.
ReplyDeleteKarena pada akhirnya ini hanya soal seberapa lama kita mampu menahan rindu.
Kalau terlalu lama menunggu, bukannya jadi buang waktu?
Deletesecara logika, ya. tapi untuk orang yg merindu, apa sih logika itu.
ReplyDeleteMemang benar, sih. Kalau rasanya sudah tak terperi lagi, sampai mati pun akan tetap menunggu.
DeleteSensitif bahas yg beginian. Tiap orang punya keputusan. Sebagian dari mereka menunggu, tapi dalam keputusasaan. Ah ya ampun, cuma beda 1 huruf.
ReplyDeleteTentang keputusan dan keputusasaan, ya. Kalau pun mau dilepas, rasanya pasti berat- sudah terlanjur lama menunggu.
DeleteDan inilah bukti keputusanmu untuk bertahan, kan..
ReplyDeleteDengan komentar yg sekarang sudah makin banyak?